Banner
Rumah BelajarKemendikbud
Galeri Photo Terbaru
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Peran SMK Dalam Dunia Industri

Tanggal : 27-10-2013 10:11, dibaca 432 kali.

Keberhasilan pembangunan pendidikan merupakan elemen dasar dalam pembangunan nasional. Terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas secara langsung akan memberi kontribusi bagi tercapainya pembangunan nasional. Dan sebaliknya rendahnya kualitas sumber daya akan memberi efek negatif dalam proses pembangunan nasional. Pendidikan adalah kata kunci pembangunan, melalui pembangunan pendidikan, proses pembangunan akan dapat berjalan dengan baik dan mencapai hasil yang diharapkan.

Untuk mencapai kemajuan maka sebuah bangsa harus melakukan perbaikan pendidikanya, dalam melakukan pembangunan tidak mungkin berhasil tanpa pendidikan yang baik. Pemanfaatan teknologi khususnya teknologi yang berhubungan dengan pendidikan diyakini dapat mempercepat dan memperbaiki proses pembelajaran. Kehadiran teknologi dalam dunia pendidikan sedikit banyak telah merubah banyak praktik pendidikan di berbagai negara di dunia.

Dalam konteks inilah maka diperlukan inisiatif-inisiatif yang komperehensif serta menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan untuk menyikapi tantangan dunia global yang semakin tinggi tingkat persaingannya, sehingga diperlukan pembinaan dan pengembangan produksi dan enterpreunership dengan pembuatan berbagai macam aplikasi software sebagai implementasi dari berbagai aplikasi bisnis berbasis teknologi informasi.

Salah satu fenomena menarik yang perlu dicermati dari lulusan sekolah menengah atas (SMA) termasuk sekolah menengah kejuruan di Indonesia adalah ketidakmampuan lulusannya untuk cepat beradaptasi dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri yang modern. Hal ini menyebabkan jumlah pencari kerja lulusan SMA yang terus membengkak. Seperti data yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja dan Trasnmigrasi Provinsi Jawa Tengah tahun 2002, 2004 dan 2005 serta 2006 yang terus meningkat. Pada tahun 2002 tercatat jumlah pencari kerja lulusan SMA sejumlah 58.225 orang menjadi 112.258 orang pada tahun 2004 dan 144.314 orang pada tahun 2005 dan terus melonjak sangat drastis menjadi 312.525 pencari kerja lulusan SMA di tahun 2006.

Di sisi lain dunia usaha dan dunia industri kita belum dapat bersaing dalam percaturan global untuk memenuhi produk yang sesuai dengan keinginan pasar. Ada kecenderuangan dunia usaha dan dunia industri yang enggan melakukan penelitian dan pengembangan produknya. Sehingga industri kita kalau dibiarkan hanya mengarah sebagai traders yang melakukan bisnisnya berdasar lisensi pihak asing yang tidak membutuhkan rekayasa engineering. Jadi industri kita merasa nyaman untuk mengimport teknologi lalu merakit sedikit, kemudian menjualnya kepada masyarakat, sehingga nilai tambahnya untuk bangsa dan negara cenderung tidak optimal. Padahal banyak produk inovasi rekayasa yang dihasilkan oleh sekolah menengah kejuruan, misalnya melalui lomba-lomba kompetensi siswa atau sekarang dikenal promosi kompetensi siswa yang dilaksanakan setiap tahun secara berjenjang dari tingkat daerah, provinsi sampai tingkat nasional bahkan untuk kompetensi-kompetensi tertentu sudah sampai internasional yang hasilnya hanya sekedar untuk keperluan lomba saja tidak dimanfaatkan untuk dikembangkan sebagai produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Oleh karena itu diperlukan suatu komitmen bersama antara dunia usaha dan dunia industri dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang didukung oleh kemauan politik dari pemerintah. Serta kepedulian para birokrat kependidikan dan pengusaha, untuk bekerja sama membangun dan melaksanakan Link and Match yang berpola Win-win Solution demi kemajuan sekolah menengah kejuruan sekaligus kemajuan dunia usaha dan dunia industri agar dapat bersaing di era global sekarang dan masa yang akan datang.

 

Bergunakah SMK di Dunia Usaha dan Dunia Industri?

Jika kita bicara soal kesempatan kerja, maka di negara kita jika ada satu pekerjaan maka diperkirakan ada seribu orang yang akan melamar. Dari seribu orang itu mungkin hanya sekitar seratus orang yang memenuhi persyaratan administrasi dan lulus test psikologi. Intinya begitu besar “gap” atau perbedaan antara “Supply and Demand” ,antara persyaratan kerja dengan mereka yang memenuhi kualifikasi persyaratan kerja tersebut.

Hasil dari dunia pendidikan berupa lulusan SMK atau Politeknik yang memang dipersiapkan untuk segera memasuki dunia kerja masih jauh dari harapan. Ada beberapa sekolah kejuruan atau politeknik yang lulusannya langsung dapat masuk kepasar kerja. Mereka mempunyai peralatan latihan kerja yang memadai, biasanya merupakan proyek percontohan atau bekerjasama dengan industri tertentu. Sekolah kejuruan dan politeknik yang berjalan tanpa menyediakan peralatan latihan kerja yang memadai, akan ketinggalan teknologi dan lulusannnya masih harus dibekali dengan ketrampilan untuk dapat memenuhi standard industri.

Pada negara lain yang sudah maju masih terdapat juga masalah “link and Match” antara keluaran dari pendidikan dengan kebutuhan dunia industri. Bedanya setiap tahun besarnya “gap” itu semakin diperkecil dengan selalu mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikannya. Jepang saja sebagai negara industri yang sangat maju masih ada “mis-match” dalam penempatan tenaga kerjanya.Hal ini diatasi dengan memberikan kesempatan bagi pencari kerja angkatan muda untuk melaksanakan program magang. Dengan magang di industri atau di UKM (Usaha Kecil Menengah), dan mendapatkan uang saku yang memadai, maka ketrampilan bekerja seseorang menjadi meningkat.

Di Jerman untuk pendidikan Vokasi atau kejuruan, Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Jerman memegang peranan sangat besar.Pemerintah memberikan kewenangan kepada KADIN Jerman untuk membuat kurikulum, menyediakan tempat magang, menyediakan para trainer atau pengajar dan juga assesornya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan materi ajar, penguji, pengajar dan evaluasi sekolah kejuruan ditangani oleh KADIN Jerman. Dual sistem atau sistem ganda pada sekolah kejuruan di Jerman, mengajarkan teori sekitar 20 % di sekolah dan 80 % nya adalah magang dengan bimbingan para supervisor di industri.Tidak heran lulusan SMK otomotif misalnya langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan otomotif. Biasanya mereka langsung diterima bekerja diperusahaan tempat mereka magang. Dengan magang langsung di industri, semua peralatan dan kebutuhan perusahaan selalu up to date, tidak ada perbedaan anatara alat peraga yang ada di sekolah dengan yang ada di industri, seperti yang kita alami.Saya melihat sendiri bagaimana anak magang mempelajari otomotif di pabrik Porsche, mobil canggih yang sangat mahal harganya. Paling murah harga mobil Porsche adalah US $ 650.000. Bandingkan dengan anak SMK Otomotif kita yang masih belajar dengan mesin mobil kuno yang tidak sesuai dengan perkembangan tekhnologi.

Seharusnya pemerintah daerah dengan kekuasaan otonominya mengetahui dengan pasti apa keunggulan daerahnya. Berdasarkan produk keunggulan daerahnya, maka dibangun kompetensi sumber daya manusianya. Misalnya di Bali yang terkenal dengan pariwisatanya, maka pemerintah daerah fokus pada pembangunan Kompetensi keahlian yang berbasis pariwisata. Di Jawa Tengah yang terkenal sebagai pusat budaya dan juga kerajinan furniture, dibangun kompetensi yang berbasis kerajinan furniture. Di Papua yang kaya emas dan juga kayunya, dibangun komptensi keahlian emas dan kayu. Dengan demikian terbentuk suatu keahlian yang khusus, unik dan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Jika selama ini kita masih sibuk menghabiskan anggaran untuk membangun infra struktur, misalnya gedung, sekolah dan perlengkapannya atau mengundang investor membangun industri di daerah. Maka sudah saatnya investasi kita arahkan untuk pembangunan sumber daya manusianya dulu. Tanpa kompetensi. tanpa adanya “link and match” antara pendidikan dan dunia industri, maka segala peralatan, gedung dan investasi menjadi tidak maksimal dan sia-sia.Berapa banyak gedung sekolah dengan segala peralatannya yang canggih tidak berfungsi dengan baik, karena tidak ada tenaga ahli yang dapat menjalankannya. Sudah saatnya kita bekerjasama membangun kompetensi unggulan daerah. Anggaran pendidikan yang begitu besar seharusnya juga diberikan kepada lembaga pelatihan industri yang sudah terbukti berhasil.misalnya untuk mendidik tenaga kerja yang trampil dibidang otomotif, tidak perlu membangun sekolah otomotif sendiri, tapi serahkan dana tersebut misalnya kepada ASTRA group untuk mengembangkan lembaga pelatihan otomotifnya.Untuk mencetak tenaga ahli elektronik, berikan anggaran kepada Panasonic Gobel misalnya untuk memperkuat lembaga pelatihan elektronik yang selama ini hanya untuk melayani kebutuhan internal.

Sudah saatnya kita bersatu, bekerjasama, saling membantu dan saling memperkuat sektor yang sudah baik untuk kemajuan bangsa. Bearapa banyak perjalanan studi banding dilakukan oleh para pejabat kita, tanya pada hati nurani apakah sudah saatnya menghentikan segala macam perjalanan studi banding yang menghabiskan anggaran dan belum terlihat tanda kapan akan diimplementasikan demi kemajuan bangsa kita tercinta.

 

Fungsi SMK

Sekolah Menengah Kejuruan sering dijadikan oleh lulusan SMP untuk menjadi pilihan utamanya jika tidak ada niat untuk melanjut ke Perguruan Tinggi. Pemikiran ini sah-sah saja karena SMK memang berorientasi kepada usaha menghasilkan lulusan yang siap kerja. Namun pemikiran ini juga tidak sepenuhnya benar karena lulusan SMK pun dapat melanjut ke jenjang perguruan tinggi.

Program pemerintah sekarang adalah mengoptimalkan perbandingan jumlah SMK dan SMU; 70% berbanding 30%. Di Indonesia sekarang ini lebih banyak SMU dari SMK. Hal inilah yang ingin di ubah oleh pemerintah dengan memperbanyak SMK dibandingkan SMU. Hal ini dilakukan oleh pemerinah seiring dengan tuntutan pasar tenaga kerja dan peta pengangguran di Indonesia. Tingkat pengangguran di Indonesia didominasi oleh lulusan dari SMU. Hal ini terjadi karena SMU adalah pendidikan keilmuan dan kurikulumnya tidak diorientasikan kepada kurikulum terapan berorietasi siap kerja.

Dalam rancangan kurikulum terbaru SMK maka kurikulum SMK diarahkan kepada mata-mata ajar yang bernunsa terapan dengan orientasi siap kerja. Pemerintah bahkan membuka peluang selebar-lebarnya peluang untuk mendirikan SMK untuk seluruh bidang kejuruan yang memiliki prospek pekerjaan bagi lulusannya.

SMK yang sekarang sudah banyak dibuka di Sumatera Utara adalah SMK Komputer, SMK Teknologi Industri, SMK Bisnis Manajemen, SMK Pertanian, SMK Perikanan, SMK Pariwisata SMK Kerajinan Tangan dan lain-lain.

Adanya Kunjungan Dunia Usaha dan Dunia Industri serta uji kompetensi menjadi satu kekuatan bagi SMK untuk mengenalkan diri kepada pasar tenaga kerja, sehingga siswa/i yang lulus dari SMK diharapkan dapat terjun kepasar tenaga kerja dan memiliki competitive adventage. Di tengah lesunya kemampuan daya serap tenaga kerja maka SMK juga memegang peranan dengan orientasi untuk menghasilkan entrepreneurship yang baru dikalangan masyarakat. Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan yang lebih berorientasi keahlian ini menjadi sebuah peluang usaha bagi lulusan SMK yang tidak ingin melanjut.

Seiring dengan visi dan misi Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan maka Sekolah Menengah Kejuruan diharapkan mampu menurunkan tingkat pengangguran dan meningkatkan iklim investasi untuk skala mikro dan kecil di Indonesia. Dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja dan membangun jiwa wirausaha maka peranan SMK menjadi sangat dibutuhkan di tengah masyarakat.

Sekolah Menengah Kejuruan ini akan mampu mengatasi krisis jika SMK mampu menghasilkan lulusan yang dapat diserap pada pasar tenaga kerja dan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi. Tingginya sumber daya manusia yang dapat diserap di pasar tenaga kerja maka perekonomian akan semakin baik.

 

SMK Menciptakan Specific Human Capital

Kaitannya dalam pendidikan kejuruan sebagai lembaga yang menciptakan specific human capital maka dalam hal ini Balogh menyatakan pentingnya pendidikan kejuruan yaitu bahwa sekolah kejuruan dapat rnengatasi masalah-masalah di negara-negara berkembang. la mengatakan bahwa: “As a purposive factor for rural socio-economic prosperity and progress, education must be technical, vocational and democratic” .

Sementara Psacharopoulos melihat fakta bahwa negara-negara berkembang berusaha mengembangkan menjadi negara industri. Industrialisasi mensyaratkan teknologi, dan teknologi membutuhkan tenaga kerja (hard skill) sebagai operatorya. Ia mengatakan: “If technology is seen as a panacea for industrializing a country’s economy and achieving higher levels of per capita income, the next logical step is to instil into the labour force the ‘necessary skills’ for such higher technology to be applied and further developed”. Ini berarti penyediaan sekolah kejuruan untuk mencetak necessary skills menjadi sangat penting. Penyediaan sekolah ini digarnbarkan oleh Psacharopoulos sebagai berikut: “Just as you can build a bridge to lower transportation costs between two sides of a river, so by providing vocational education a country can allegedly prosper economically and reap more easily the benefits of economic growth”.

Meminjam istilah Becker, SMK merupakan lembaga pendidikan yang dimaksudkan untuk menghasilkan specific human capital. Di SMK, sejak awal siswa dididik untuk berkomitmen pada ketrampilan tertentu (specific) yang match langsung dengan kepentingan sektor usaha industri tertentu. Siswa SMK dibekali dengan ketrampilan praktis dan pengalaman kerja (semacam on-the-jobtraining) dalam kekhususan tertentu seperti bangunan, elektronika, listrik mesin, atau otomotif, bisnis manajemen dan lain-lainnya. Sekolah kejuruan diproyeksikan menjadi inkubator bagi SDM trampil untuk siap pakai. SMK sebagai lembaga pendidikan kejuruan merupakan awal titik balik sebagai motor penggerak ekonomi dan sosial di masyarakat. SMK diharapkan mampu menciptakan efek ganda (multiplier effect), yaitu mendorong capaian pendidikan warga sekaligus juga berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Khususnya melalui sektor informal. Pembekalan kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi hal yang penting. Siswa dididik untuk menjadi job creator atau businessman dan bukan hanya sebagai worker.

Dokumen Road Map of DPSMK 2006-2010 memberikan dukungan atas gagasan bahwa pendidikan kejuruan (vocational education) dalam sistem pendidikan menengah di Indonesia sangat penting untuk ditingkatkan. Dokumen tersebut memberikan beberapa reasoning sebagai berikut:

  1. SMK merupakan bagian tak terpisahkan dari sektor ekonomi, yang ditujukan untuk menunjang pertumbuhan ekonorni nasional. Oleh karena itu, sistem SMK perIu ditingkatkan (improved) baik secara kualitas maupun kuantitas.
  2. Kualitas SMK mencerminkan kualitas angkatan kerja Indonesia, yang perlu dikembangkan terus-menerus untuk meningkatkan daya saing sumberdaya manusia Indonesia.
  3. SMK berperan dalam mengurangi tingkat pengangguran (jobless index) di Indonesia.
  4. Supaya mampu tampil dalam pasar tenaga kerja, SMK harus berpartner dengan sektor usaha, dan pengusaha harus lebih berperan dalam mendukung kebijakan pendidikan kejuruan.

Hasil atau output dari pendidikan dan pelatihan secara makro yang bersifat specific human capital adalah terciptanya siswa yang memiliki performance value yang dibutuhkan oleh dunia kerja/industri. Adapun performance value yang harus terpenuhi untuk memenuhi tuntutan dunia kerja adalah meliputi 3 aspek, yaitu:

  • Knowledge (pengetahuan),
  • Skill (keterampilan),
  • Affective (sikap).

Ketiga aspek tersebut harus mengikuti konsep kesepadanan sebagaimana ditawarkan Djoyonegoro dalam bentuk link and match, pada kenyataannya pendidikan telah sesuai dengan keperluan masyarakat (industri) yang sedang membangun. Pendidikan sampai saat ini dianggap sebagai unsur utama dalam pengembangan SDM dan berkolerasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini bisa dijelaskan bahwa SMK sebagai lembaga pendidikan (entitas) dapat dipandang sebagai suatu sistem akan terdiri dari input, proses, dan output. Untuk menjadikan input menjadi suatu output yang baik ataupun berkualitas, maka diperlukan sebuah proses yang baik pula. Input SMK adalah siswa yang sedang belajar di SMK yang bersangkutan. Untuk mempersiapkan siswa menjadi lulusan yang berdaya guna dan berdaya saing serta memiliki sikap, perilaku, wawasan, kemampuan, keahlian serta keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan berbagai bidang dan sektor industri, maka SMK harus melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas, baik yang diupayakan melalui swadana maupun bantuan pemerintah. Fasilitas yang dimaksud adalah hardware (sarana dan prasaran), software (kurikulim) dan brainware (SDM yang terlibat dalam KBM).

Dengan terciptanya lulusan SMK yang terampil dibidangnya (specific human capital) maka diharapkan akan memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan perekonomian.

 

Membangun Pererkonomian Indonesia

Hasil studi UNESCO-UNEVOC-International Centre for Technical and Vocational Education and Training- yang menemukan bahwa ” … the higher the GDP per capita, the higher the Percentages of Technical Vocational Enrolment (PTVE),” di mana PTVE adalah “number of students enrolled in technical/vocational programmes at a given level of education as a percentage of the total number of students enrolled in all programmes (technical/vocational and general) at that level”. Hasil studi UNESCO-UNEVOC yang tertuang dalarn laporan Participation in formal TVET programmes worldwide: an initial statistical study juga menunjukkan bahwa tingginya total GER (Gross Enrolment Ratio) berhubungan dengan tingginya prosentase technical/vocational enrolment.

Studi empiris yang dilakukan oleh DPSMK dengan menggunakan metode kuantitatif yang mengkorelasikan proporsi siswa SMK:SMA dengan PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi dengan menggunakan data sekunder dari BPS (Badan Pusat Statistik) dan PSP (Pusat Statistik Pendidikan) Depdiknas, hasil analisis statistiknya menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara rasio siswa SMK dan PDRB. Apabila Provinsi merniliki rasio siswa SMK rendah, cenderung merniliki nilai PDRB yang rendah. Sebaliknya apabila memiliki rasio siswa SMK yang tinggi, cenderung memiliki nilai PDRB yang tinggi pula.

Peran penting yang dimainkan lembaga pendidikan SMK ini diamanatkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menekankan bahwa lulusan SMK diarahkan pada tiga pilar utama yaitu:

  • bekerja di dunia usaha dan dunia industri (DUIDI),
  • bekerja secara mandiri atau usaha sendiri dan
  • melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi terutama perguruan tinggi profesi/vokasi.

Terkait dengan amanat tersebut tidaklah menyimpang manakala direktorat PSMK dalam Renstra 2005-2009 menyebut pendidikan menengah kejuruan sebagai bagian dari sistem pendidikan sekaligus sebagai bagian dari sistem ekonomi nasional. oleh karena itu semua program yang sedang dan akan dikembangkan oleh Direktorat PSMK sejalan dengan berbagai program pendidikan yang diselaraskan dengan pengembangan ekonomi secara nasional.

Selanjutnya untuk mendukung tercapainya tiga pilar utama misi pendidikan kejuruan seperti yang dimamanatkan Undang-undang Pendidikan, Direktorat PSMK mengembangkan Strategi induk yang tertuang dalam Renstra 2005-2009, yaitu:

  • Mengembangkan Mutu dan Relevansi SMK dan Membina Sejumlah SMK yang Bertaraf Internasional.
  • Perluasan dan Pemerataan Akses dengan Tetap Memperhatikan Mutu.
  • Meningkatkan Manajemen SMK dengan Menerapkan Prinsip Good Governance.

SMK sebagai suatu entities memiliki peranan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia. Sebagai suatu entitas ekonomi, keberadaan SMK dapat berperan sebagai special endowment factor dalam perekonomian di daerah. Peran ini akan semakin berdaya guna dengan serangkaian proses pembelajaran di SMK yang lebih mengedepankan aspek skills dalam membentuk kualitas SDM.  Peran SMK dalam mendukung ekonorni daerah, sangat dipengaruhi oleh bagaimana SMK menghasilkan lulusan yang cerdas, terampil dan siap kerja. SMK sebagai sebuah sistem yang meliputi input berupa siswa dan proses KBM dan pendukungnya, merniliki peran yang sangat penting dalam menggodok input menuju output berupa lulusan yang cerdas, terampil dan siap kerja. Sehingga akan tercipta lulusan SMK yang berkualitas, dan merekalah yang akan menjadi penentu di pasar tenaga kerja, dan pada gilirannya, menjadi penyumbang pertumbuhan ekonorni daerah. Semakin berkualitas lulusan SMK, semakin mudah ia terserap dalam pasar tenaga kerja. Berhasil menjadi pekerja di pasar tenaga kerja berarti menciptakan pendapatan. Keterserapan alumni SMK dalam pasar tenaga kerja berarti penciptaan income bagi alumni SMK, sekaligus pendapatan bagi daerah (dalam bentuk PDRB) di mana alumni tersebut bekerja. Peran inilah yang kemudian menjadikan SMK menjadi suatu engine sector of growth dalam pertumbuhan ekonomi di daerah. Melalui peran ini, SMK akan menciptakan multiplier effect di bidang ekonomi yang kemudian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.

 

Guna SMK bagi Dunia Usaha dan Industri

Kemitraan sekolah dengan dunia industri dapat memberikan manfaat bagi sekolah, siswa, dan dunia industri. Manfaat bagi sekolah antara lain:

  • Mengetahui informasi tentang dunia kerja yang relevan dengan program studi yang ada di sekolah.
  • Memperluas wawasan tentang teknologi baru.
  • Pengalaman industri bagi guru magang.
  • Industri sebagai sumber pengembangan sekolah.
  • Peningkatan keterampilan dan pengalaman kerja guru.
  • Sarana sebagai penyaluran tenaga kerja.
  • Tempat mengirim siswa PKL/ PRAKERIN.
  • Sumber pengembangan sekolah dan lulusannya.
  • Kemungkinan bantuan untuk bahan praktek, pemeliharaan peralatan, dan kesejahteraan pegawai.

 

Manfaat bagi siswa antara lain:

  • Peningkatan keterampilan.
  • Pengalaman bekerja sebagai karyawan.
  • Informasi bimbingan karakter.
  • Memperluas wawasan.

 

Manfaat bagi industri antara lain :

  • Promosi perusahaan.
  • Sebagai pengabdian masyarakat.
  • Alih teknologi dan informasi.
  • Mendapat sumber tenaga kerja.
  • Tambahan daerah pemasaran.

KESIMPULAN

Tatanan ekonomi dunia sedang berubah ke-era perdagangan bebas dan investasi bebas, dimana perdagangan barang dan jasa antar negara tidak lagi mengalami hambatan-hambatan yang berarti dalam quota dan tarif. Bentuk perdagangan bebas di era global ini dampaknya adalah Indonesia harus mempersiapkan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompetensi dan standarisasinya mengikuti kualifikasi dunia.. Penerapan teknologi baru dalam industri mengandung konsekuensi peningkatan permintaan  Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi guna mendukung peningkatan produktivitas.

Pendidikan Sekolah  Menengah  Kejuruan (SMK)  sebagai pendidikan kejuruan tingkat menengah, memiliki  peran besar  dalam merencanakan dan menciptakan SDM  yang profesional  dan  produktif. Pendidikan  di  Sekolah  Menengah  Kejuruan  (SMK) bertujuan untuk meningkatkan  pengetahuan  dan  keterampilan  siswa  dalam  rangka  menyiapkan  mereka  sebagai  tenaga  kerja  tingkat  menengah.   Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mempunyai misi menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah yang mampu mengisi lapangan kerja dan berkualitas profesional diharapkan mampu berperan sebagai alat unggulan bagi industri-industri Indonesia dalam menghadapi persaingan global.

Pendidikan kejuruan  juga  merupakan investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,  yang merupakan syarat utama untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesempatan, dan untuk perubahan sosial. Pendidikan dan pelatihan adalah merupakan upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia, terutama untuk pengembangan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Pendidikan formal di dalam suatu organisasi adalah suatu proses pengembangan kemampuan kearah yang diinginkan oleh organisasi yang bersangkutan, sedangkan latihan merupakan bagian dari suatu proses pendidikan yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan atau ketrampilan khusus seseorang atau kelompok orang. Sesuai dengan tujuan dari SMK adalah  sebagai salah satu institusi yang menyiapkan tenaga kerja, dituntut mampu menghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan oleh dunia kerja, tamatan SMK diharapkan memiliki kecakapan hidup, memiliki kompetensi kerja yang sesuai dengan pekerjaan.  Kecakapan hidup adalah pendidikan kemampuan, kesanggupan, dan ketrampilan yang diperlukan untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia.

Dengan terciptanya SDM/lulusan yang berkualitas yaitu  lulusan yang cerdas, terampil dan siap kerja sehingga siap memasuki pasar kerja. Keterserapan para lulusan yang merupakan output SMK akan meningkatkan produktivitas yang pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui terciptanya nilai tambah terhadap barang dan jasa yang terdapat dalam dijelaskan dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam menyekolahkan anak-anaknya untuk menempuh studi di jenjang SMK. Semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat, semakin tinggi pula kualitas SDM yang dapat digunakan dalam pengolahan sumber daya yang tersedia dalam perekonomian.

Oleh karena itu SMK memiliki peran dan dampak yang sangat penting, SMK sebagai suatu entities memiliki peranan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia. Sebagai suatu entitas ekonomi, keberadaan SMK dapat berperan sebagai special endowment factor dalam perekonomian di daerah. Peran ini akan semakin berdaya guna dengan serangkaian proses pembelajaran di SMK yang lebih mengedepankan aspek skills dalam membentuk kualitas SDM. SMK sebagai lembaga pendidikan kejuruan merupakan awal titik balik sebagai motor penggerak ekonomi dan sosial di masyarakat. SMK diharapkan mampu menciptakan efek ganda yaitu mendorong capaian pendidikan warga sekaligus juga berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. SMK merupakan bagian tak terpisahkan dari sektor ekonomi, yang ditujukan untuk menunjang pertumbuhan ekonorni nasional. Oleh karena itu, sistem SMK perIu ditingkatkan (improved) baik secara kualitas maupun kuantitas. Kualitas SMK mencerminkan kualitas angkatan kerja Indonesia, yang perlu dikembangkan terus-menerus untuk meningkatkan daya saing sumberdaya manusia Indonesia. SMK juga berperan dalam mengurangi tingkat pengangguran (jobless index) di Indonesia.

Peran SMK dalam mendukung ekonomi daerah, sangat dipengaruhi oleh bagaimana SMK menghasilkan lulusan yang cerdas, terampil dan siap kerja. Sehingga akan tercipta lulusan SMK yang berkualitas, dan merekalah yang akan menjadi penentu di pasar tenaga kerja, dan pada gilirannya, menjadi penyumbang pertumbuhan ekonorni daerah. Semakin berkualitas lulusan SMK, semakin mudah ia terserap dalam pasar tenaga kerja. Berhasil menjadi pekerja di pasar tenaga kerja berarti menciptakan pendapatan. Keterserapan alumni SMK dalam pasar tenaga kerja berarti penciptaanincome bagi alumni SMK, sekaligus pendapatan bagi daerah (dalam bentuk PDRB) di mana alumni tersebut bekerja. Peran inilah yang kemudian menjadikan SMK menjadi suatu engine sector of growth dalam pertumbuhan ekonomi di daerah. Melalui peran ini, SMK akan menciptakan multiplier effect di bidang ekonomi yang kemudian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah maupun untuk mengembangkan dunia usaha dan industry di era globalisasi.

Sumber : http://rapendik.com/program/wandira/manajemen-sekolah/1481-peran-smk-dalam-dunia-industri



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : Michealdunc -  [bvcvbfdgfc@gmail.com]  Tanggal : 11/05/2014
wells fargo school loans <a href=http://carnegieofhomestead.com/cgi/buy-cytotec.html>misoprostol online uk</a> surface pro tablet review

Pengirim : Michealdunc -  [bvcvbfdgfc@gmail.com]  Tanggal : 23/04/2014
best over the counter weight loss pill <a href=http://carnegieofhomestead.com/cgi/buy-cytotec.html>cheap cytotec philippines</a> manatee county rural health


   Kembali ke Atas